This is Me

what you think.

My Tumblr

click this image to visit My Tumblr.

Trauma Counseling

Galery Photo's About This.

So Beautiful

Hmmmm...

Dia Selalu Mebuat Ku Bahagia.

Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Skripsi

Sebuah kata yang sering membuat mahasiswa semester akhir gemetar, grogi, takut, bahkan trauma, padahal kegiatan ini pada saat ini telah disederhanakan dan lebih mudah disbanding masa lalu. Trauma-trauma berawal dari stigma tanpa data lebih menjadi kendala yang tercipta secara tak sengaja, bahkan hanya dibangun dari cerita dan derita kakak kelas dan perasaan khawatir ketidak beranian yang sering juga terjadu karena prejude tak berdasar!
Skripsi adalah puncak mahasiswa berkarya menunjukkan kualitas yang selama ini ia pelajari selama 3-4 tahun, atau lebih!! Sayangnya sering mereka justru mendustai diri sendiri atau bercerita tentang kesulitan bukan dinamikanya, sehingga membuat sang adik kelas mendapatkan pengalaman atau paling tidak cerita buruk disbanding suka cita ketika menemukan berbagai kegembiraan seorang ilmuwan yang ia lakoni untuk beberapa waktu meskipun masih stereotip bentukan .
Skripsi sering dimaknai secara sederhana sebuah skrip atau naskah yang dimainkan selama babak sandiwara dimainkan dari awal hingga purna. Proposal sebagai pembuka dan ujian pendadaran atau ujian skripsi yang sering dikatakan sang ketua sebagai bimbingan akhir, tak termaknai secara memadai hingga kebiasaan berpikir negative berbuah cerita turun temurun hingga mambangun sebuah trauma yang sebenarnya tidak ada!
Skripsi adalah sebuah karya mahasiswa, meskipun sering para pembimbing mengintervensi hingga ke ide, hingga seluruh ide mahasiswa terkikis yang ada adalah ide pembimbing, akibatnya mahasiswa menjadi robot yang menjalankan ide sang pembimbing. Tetapi ini telah terkikis dan yang tersisa hanyalah para pembimbing konvensional yang ingin melestarikan wibawa, tetapi biasanya malah tidak berwibawa karena yang ia berikan yang hanya ia bisa dan tak mau belajar menyertai mahasiswa.
Skripsi itu pencarian atau paling tidak pembuktian atau malah sedang ingin merubah situasi yang telah ada dari gagasan mahasiswa yang masih langka. Pembimbing adalah mereka yang dipandang lebih dewasa dalam perilaku dan tata karma pengkajian yang sering menjadi metodologi itulah nama yang dibakukan, namun sering ada yang hanya numpang nama dengan berdalih memudahkan tetapi justru membuat mahasiswa setelah selesai pun tak memiliki makna!
Bagaimana mengikuti pemikiran mahasiswa dengan sedikit pengarahan agar mahasiswa mengerti jalannya, bukan membuat jalan baru baginya. Biarlah mahasiswa menjadi dewasa bertanggungjawab atas yang mereka bisa dan dipertanggungjawabkan dalam meja yang sepertinya menghadapkan sang hakim, jaksa, dan terdakwa! Semoga ini segera sirna menjadi sebuah kelompok berdampingan membuat pemecahan dunia bukan peniru semata atau sekedar tipu-tipu untuk cepat wisuda!
Kadang mereka memang belum berani membuat berbeda, karena memang mereka tidak dibiasakan berbeda! Dia piker yang sama itulah yang utama, mereka beranggapan yang berbeda itu berdosa karena tidak bisa menyamakan dengan pesan sponsor sang pembimbing yang malah banyak yang belum terbiasa membuat karya yang berbeda, bahkan menulis pun belum terbiasa dan menyandarkan kuasa yang ia punya karena diberi dengan alakadarnya karena ia anggota suatu dewan yang disebut dosen semata!
Mahasiswa pun banyak yang merasa sok bisa hingga melambungkan keyakinannya, bahwa ia lebih pintar pembimbing yang memiliki sedikit kuasa, akhirnya berbentur norma dan jadilah korban bergelimpangan antara yang merasa bisa dan sang dosen yang tak mau terlanggar kuasanya!
Seharusnya mereka duduk bersama, berdiskusi dan memecahkan masalah bersama, tetapi tak jarang mahasiswa tidak berbicara ketika berjumpa, justru berkicau dibalik kaca jendela untuk sekedar mencerca karena sang dosen tidak menuruti yang mahasiswa minta! Sebaliknya, sang dosen juga sering memaksakan karsanya tanpa mau memandang bahwa mahasiswa telah mampu berjalan dengan titik kemampuannya, bukan karena tuntunannya!
Membaca itu menjadi kunci, tetapi tidak semata, karena menuangkan hasil bacaan menjadi idea tau karya simpulan argument semata pun tidak ia bisa! Ia hanya mengambil tanpa telaah dan ia cukup bangga hanya mengutip semata, tanpa analisis dan tanpa membandingkan, tanpa menelusuri juga tanpa mencari makna yang ada di dalamnya!
Berargumentasi dalam untaian kata-kata menjadi kalimat bermakna, bukan hal sulit. Latihan sepanjang waktu memang harus dilakukan, bukan menuai padi tanpa menanamnya atau hanya ingin skripsi beli tanpa ujian semata, yang penting wisuda menghadirkan ayah bunda, meski hatinya tersenyum kecut karena sarjananya tiada makna!
Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian…. ……in malas mahasiswa lakukan, ini tidak praktis katanya…. Akibatnya………………bersakit-sakit dahulu dan akhirnya mati kemudian…….barulah mereka menyesal karena kebanggaan yang mereka pamerkan dengan memakai toga kebesaran hanyalah symbol kebohongan belaka……
Jangan terjadikan ini kawan! Karena kalian sebenarnya bisa …meskipun pembimbingmu kadang tak bisa, tetapi sampaikan sambil belajar berkomunikasi bagaimana menyampaikan ide dan sesuai cara pembimbing Anda, maka berbagai keterampilan anda akan punya………..dan anda menjadi dewasa dalam arti yang sebenarnya!

Bicara Cinta..Hmmmm

Kali ini aku ingin bercerita tentang cinta , bicara masalah cinta memang  paling mengasyikkan….
Berbicara masalah cinta, adalah berbicara masalah hati anak manusia dengan lawan jenisnya ( yang normal ).
Berbicara masalah cinta adalah berbicara masalah perasaan . Berbicara masalah rasa, hanya orang -orang yang pernah merasakan dan yang bisa memahaminya saja .
Ibarat orang yang tidak pernah makan nasi pecel, ia tidak akan pernah mengerti bagaimana rasa  nasi pecel itu…karena ia tidak pernah merasakan nasi pecel….meski diceritain begini dan begitu rasa nasi pecel itu .Berbeda dengan orang yang pernah makan nasi pecel ,ia akan sangat mengerti bagaimana “nasi pecel” itu begitu namanya disebut.
Bersyukurlah bila hari ini kita masih merasakan cinta, meski mungkin tidak bisa memiliki apa yang kita cintai , Karena mungkin diantara kita ada yang sudah mati rasa terhadap cinta itu sendiri .
Seringkali banyak orang bicara tentang cinta ,Tapi cinta macam apa wujudnya?”
Dalam kehidupan kita, biarpun tanpa cinta, dan di saat kita sendirian, tampaknya selalu ada “seseorang” yang mendampingi kita. Dengan kata lain, kita selalu didampingi cinta. Tapi kita sering tak tahu. Dan kita tak menyadarinya. Maka, kita pun selalu bertanya pada diri sendiri apa makna cinta yang sebenarnya .
Sebab ada dua jenis macam cinta yang aku ketahui.
Pertama, cinta dalam bentuk kata-kata. Cinta jenis ini mungkin tampak cerdas, penuh argumen, penuh penjelasan, dan karena itu bisa menggema ke mana-mana.
Tapi cinta macam ini agak mudah diobral. Soalnya cinta jenis ini bisa diperoleh dengan cepat dan risikonya  pun bisa dilupakan dengan cepat pula. Cinta, jatuh cinta, dan menerima cinta, menjadi urusan teknis dan rutin, seperti urusan birokrasi kantor saja .
Kedua cinta jenis seperti dalam renungan Kahlil Gibran,
“Cinta tidak memiliki ataupun dimiliki, Karena cinta telah cukup untuk cinta ,Cinta tiada berkeinginan selain untuk mewujudkan maknanya”
Dan sepertinya bagi Gibran, bila benar orang memiliki cinta, maka ia tak akan berkata “Tuhan ada di dalam hatiku”, melainkan sebaliknya: “Aku berada di dalam Tuhan”.
Jenis cinta  ini jelas bukan cinta hiasan bibir, melainkan mahkota hati. Ini bukan cinta sekedar polesan di bibir, melainkan cinta yang diam, tak terukur, tak bisa dipamerkan di depan siapa pun.
So , seperti tulisan di atas tadi…cinta yang sebenarnya hanya bisa di rasakan karena cinta bukanlah sebuah dongeng yang harus di beritakan ke mana-mana .
Cinta bagai misteri datang dan pergi tanpa permisi. Kita tak perlu mencarinya karena cinta akan datang pada waktu yang tepat.
Lalu bagaimana dengan perasaan yang telah  kita punya saat diri kita  ditinggal ama cinta ?
Simpanlah dalam-dalam cinta tersebut. Kenanglah sebagai bagian dari pengalaman hidupmu. Menangislah jika perlu. Berbahagialah karena kita  pernah dicintai, berbahagialah karena cinta pernah ada dihati kita .
Bagaimana pula  jika  cinta itu  hilang dalam sebuah perkawinan ?
Dalam suatu perkawinan, cinta adalah cinta yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan kepada suami/istri dan kepada anak (jika ada). Kamu nggak bisa pergi begitu saja dengan mengatakan “Aku tak mencintai kamu lagi.” Bagi anda yang mencintai, ubahlah makna  cinta menjadi KASIH.
Karena Kasih itu sabar ..Kasih itu tidak cemburu…Kasih menerima apa adanya dan memberi yang ada .Jika seseorang yang memiliki kasih ia tak akan melupakan cintanya . Kasih itu mengampuni dan memaafkan, Kasih adalah ”Cinta Sejati” karena berasal dari Tuhan. Tanamkan Kasih di hatimu sejak awal maka Cinta kamu tak akan hilang .
Cinta akan lebih indah dinikmati kalau datangnya dengan cara alami. Jadi , tak perlu dipaksakan untuk mencarinya . Berhentilah mencari cinta tetapi jangan pernah berhenti untuk menjadi pribadi yang patut di cintai , dengan begitu cinta akan datang dengan sendirinya .

Sejarah Kata “Lo” dan “Gue”

Kata “Lo” dan “Gue” emang merupakan kata yang sudah sangat lama digunakan oleh masyarakat di Indonesia khususnya di Jakarta. Kedua kata ini sangat populer digunakan oleh masyarakat sejak tahun 70-an sampai saat ini. Kata “Lo” yang berarti kamu dan “Gue” yang artinya saya atau aku, sering digunakan karena terkesan simple dan santai untuk orang yang sebaya. Tapi kata “Lo” dan “Gue” ini akan sangat tidak sopan digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dari kita. Dan dari pengalaman saya, kata “Lo” dan “Gue” ini mulai eksis digunakan oleh warga Malaysia dan Singapura. Ya mungkin disebarkan sama TKI-TKI yang kerja disana !!!

Pada mulanya sih saya kira kedua kata ini merupakan bahasa asli dari suku Betawi, karena kedua kata ini banyak di gunakan oleh masyarakat Betawi dan menyebar ke seluruh masyarakat yang tinggal di Jakarta bahkan keluar negeri. Karena saya sangat tertarik oleh asal-muasal kedua kata ini, mulailah saya mencari informasinya. Dan yang bikin saya kaget, ternyata kedua kata ini merupakan kata-kata yang berasal dari China. Kedua kata ini juga sudah dipergunakan sejak abad ke 16 dimana banyak para pedagang China yang berdatangan ke Indonesia termasuk Jawa dan Jakarta.




Kata “Gue” dan “Lo” ini berasal dari bahasa Mandarin Hokkien yang merupakan bahasa China. Ini merupakan tulisan kata “Gue/Gua” yang berarti “Saya/Aku” menurut bahasa Mandarin Hokkien (),dan yang satu ini adalah tulisan kata “Lo/Lu” yang berarti “Kamu/Anda” menurut bahasa Mandarin Hokkien (). Maksud dari bahasa Mandarin Hokkien adalah bahasa Mandarin yang telah disederhanakan.
Tapi pertanyaan saya adalah kenapa kok kedua kata ini paling sering digunakan oleh masyarakat Jakarta??? Dan pertanyaan gw terjawab karena pada masa kedatangan China di abad 16, kedua kata ini sangat eksis di setiap daerah di Indonesia. Namun pada masa kolonial Belanda, pusat perdagangan adalah Jakarta dimana para pedagang lebih banyak yang mampir ke pelabuhan Sunda Kelapa pada masa itu, termasuk juga para pedagang China. Tidak hanya itu, para warga China pun banyak yang menetap di Jakarta dan juga mengenalkan tradisi dan bahasa mereka kepada masyarakat Jakarta sampai saat ini. Alasan lain juga karena dari semua daerah di Indonesia, hanya Jakarta lah yang terbuka dengan budaya dan bahasa dari negara lain sehingga bahasa-bahasa dari China, Belanda, dan negara lain cepat berkembang dan terus digunakan sampai saat ini.
source:EntertaimentGeek

Muda dan Galau

Galau itu merupakan wilayahnya orang muda, sangat heran adalah orang muda yang tidak galau. Yang tidak boleh dalam kegalauan itu adalah kegalauan yang berlanjut, karena itu bukan sifat asli hati , sifat asli hati yaitu : Menyakit, meragu, menjelas dan menghilang dari kejelasan
Maka dari itu kita membicarakan Muda dan galau dan bagaimana kita mengambil kekuatan dan keuntungan dari kegalauan agar kita menjadi pribadi yang berhasil semuda mungkin.
Apakah usia Tua merasakan galau?
Ada, hanya patokannya seperti ini, kegalauan bagi orang tua adalah kemandegan bagi orang tua itu sendiri dan merupakan tanda pertumbuhan bagi orang muda. Jadi kalau orang tua galau artinya kemampuannya tidak sesuai dengan beban hidupnya. Tetapi bagi anak muda adalah sebuah kewajaran karena  anak muda itu problemnya adalah ketidakjelasan, ketidakpastian, belum damainya dengan kesalahan di masa lalu, lalu kebiasaan menggunakan kesalahan di masa lalu sebagai penduga kebaikan masa depan. Kalau kita menggunakan kesalahan masa lalu sebagai penentu kebaikan di masa depan maka orang ini tidak berbahagia karena hidup di masa lalu dengan badan hidup di masa kini. Jadi muda dan galau itu wajar dan  kita tidak pernah kehilangan kualitas itu  sampai kita menjadi orang yang  super, lalu kegalauan digunakan menjadi tanda bahwa kemampuan kita mencapai batasnya. Dan sebenarnya ini merupakan perintah menghadap kepada Tuhan untuk meminta kekuatan lebih. Jadi bagi yang muda Galau itu perintah untuk mendapatkan kejelasan .
Kegalauan mengenai karir, saat ini memiliki pekerjaan yang sudah jelas, tetapi dengan berjalannya waktu kita meningkatkan diri dan kompetensi sehingga muncul kesempatan untuk karir yang baru, pertanyaannya, apakah kita tetap di karir yang lama atau pindah ke karir baru yang belum jelas?
Sebab dari banyak kegalauan yaitu,  salah berharap, tidak berharap kepada Tuhan tetapi berharap kepada pekerjaan. Mengalihkan harapan dari pemberi rejeki kepada organisasi. Mari kita murnikan dahulu bahwa selalu ada rejeki dimanapun kita berada. Kebanyakan rejeki datang pada siang hari, kecuali untuk orang - orang tertentu yang memang diharuskan bekerja di malam hari. Nah, dari sini bisa diketahui banyak orang berharap di satu tempat, walaupun dia disiksa dalam kerendahan, tidak mengeluarkan dirinya ke tempat yang menghormatinya, jadi karir itu bukan pekerjaan, bukan tempat dan bukan organisasi. Carreer is Within you, kalau kita pantas di bayar mahal, maka kita pantas di bayar mahal di manapun. Apabila kita pribadi yang diterima, maka kita akan diterima di manapun. Banyak orang membatasi kehebatan dirinya dengan pendapat kecil mengenai dirinya.  Maka orang yang mau sembuh dari penyakit galau  harus belajar menghormati dirinya. Lihat diri kita sebagai pemimpin masa depan, sebagai orang yang mampu. Sekarang muda dan tidak dihormati itu wajar, karena semua orang menganggap hanya yang tua yang berhasil, hanya yang kaya yang berhasil, tapi muda yang mengubah dunia selalu diberikan waktu itu, katakan lihat saya nanti.
Galau yang tepat itu seperti apa? Lebih baik galau karena bingung memilih daripada damai  karna acuh terhadap pertumbuhan , nasehat enjoy saja bisa sangat berbahaya, mengabaikan keharusan untuk memilih dan menyembunyikannya didalam kesibukan kebisingan yang menutupi kejelasan logika bisa berbahaya dan ini bisa menjelaskan kepada kaum tua kenapa dia masih bingung sementara temannya yang lain sudah damai. Galau itu adalah kesedihan atau belum jelasnya pilihan dalam hidup. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Dan orang muda itu pemimpi, dan orang muda yang paling mudah strees. Imajinasi itu membesarkan kesedihan, imajinasi membesarkan kegalauan. Jadi orang yang kreatif adalah orang yang mudah galau. Karena orang kreatif membayangkan sesuatunya meskipun itu belum terjadi. Dan orang yang galau dan semakin galau harus sadar bahwa dia memilliki kemampuan yang dahsyat untuk membayangkan yang hebat sekali. Imajinasi kata albert eisntein “more important than knowledge”. Imajinasi lebih penting dari pengetahuan, karena kita bisa membayangkan proses mencapai keberhasilan. Banyak orang membayangkan    keberhasilan tapi tidak membayangkan  proses berhasil. Banyak orang membayangkan keberhasilan tapi  juga membayangkan penderitaan dari kegagalan, lalu mengapa kita menggunakan rahmat yang namanya imajinasi untuk mengecilkan hati kita sendiri.
Bagaimana menyikapi rasa galau yang berasal dari diri sendiri dan galau karena sebab orang lain? Ada sebagian orang yang mudah galau dan sebagian lagi tidak. Apabial kita galau? Apakah galau kita untuk sesuatu yang penting. Jangan tangani semua kegalauan, sebagian besar  kegalauan lebih baik diabaikan. Mengapa setiap kicauan burung, kicauan orang mengganggu kedamaian kita? Kita harus bisa berkata “this is my life” “I Run it” “the way I want it”. Saya pemimpin bagi kehidupan saya sendiri, kalau saya salah biarkan saya salah karena keputusan saya, kalau saya benar kamu juga untung.
Kata kata apa yang kita gunakan untuk melawan galau? Katakan kepada diri kita ” jangan Galau” . sebagaian besar orang yang galau merasakan kegalauan karena sedang tidak mengetahui. Tidak sedang berhadapan dengan orang, tidak sedang menggembirakan orang, tidak sedang memuliakan ibundanya. Orang yang galau itu sedang gila, melihat ke dinding. Maka dari itu libatkanlah diri kita dalam pergaulan dengan orang - orang yang kekuatan pribadinya, yang ketertaikannya kepada kehidupan menghapus semua ketertarikan kita untuk galau.  Dan kita di nilai dari teman - teman kita.
Saatnya Poling  ”Saat orang orang muda galau dan ingin berbagi  rasa dan penguatan dengan siapa biasanya mereka lebih nyaman ?”
A.      Orang Tua dan Guru (25%)
B.      Teman - teman sebaya (62%)
C.      Penasehat Spiritual dan Psikolog.(13%)
Yang memilih A, alasannya merasa lebih percaya diri dan merasa terbuka ketika mengkosultasikan dengan orang tua dan guru. Intinya kedekatan dengan orang tua.
Yang memilih B, karena teman sepenanggungan , sama yang dirasakan. Dan ini betul juga,  teman sebaya juga sama bingungnya (tapi bisa sharing) memang tepat. Yang terjadi adalah orang bingung sharing dengan orang bingung. Apakah ini akan menyelesaikan masalah? Biasanya malah akan memperburuk keadaan. Jadi diskusi dengan teman sebaya malah akan memperburuk. Tapi apakah cara ini salah, kalau mereka mencari tempat untuk merasa aman dengan teman - temannya (tidak) hal ini dikarenakan teman - temannya lebih bersahabat dibandingkan orangtuanya. Teman-temannya mendengar sementara orang tuanya tidak, melainkan langsung marah.
Yang memilih C, karena penasehat spiritual l itu lebih menjadi penengah dan menasehati kalau kita punya masalah dengan orang tua. Maka akan diarahkan untuk tidak membenci orang tua melainkan lebih sayang terhadap orang tua.
Kegalauan itu adalah masa dimana kita membutuhkan kasih sayang. Orang yang galau sedang tidak mapan karena harus bergerak maju. Dan yang dibutuhkan adalah kasih sayang karena kasih sayang adalah tenaga yang mendorong bagi kebaikan.  Cinta mengharuskan kebaikan, apabila kita mencintai, baik anak, kekasih, orangtua, yang sedang galau bantu dia untuk menemukan kekuatan untuk maju, bukan di kritik. Yang menyelesaikan kegalauan adalah persahabatan. Yang menggalaukan di antara hubungan cinta adalah rendahnya persahabatan , rendahnya persahabatan sama dengan pengabaian dan pengabaian adalah pembunuh cinta terkejam. Kegalauan adalah getaran yang memungkinkan kita didorong bergerak menuju sesuatu yang penting.
Bagaimana memanage galau, agar kita bisa menjadi pribadi yang mapan dan bisa untuk membahagiakan keluarga kita sendiri  ? kalau kita galau tolong diingat bahwa yang kita khawatirkan sekarang akan menjadi kecil sekali nanti. Harus diingat keberhasilan selalu berpihak kepada kita, apabila kita patuh terhadap perilaku yang baik.  Tanpa strategi apapun, kita akan mendewasa menjadi lebih besar dari pada hal - hal yang mengganggu kita. Kalau ada yang mengkhawatirkan bagi kita, kita harus melakukan cek…. Seperti ini, apakah ini baik bagiku? Kalau tidak, Tinggalkan. Apakah ini akan menjadikanku lebih siap? Jika iya  maka tetaplah khawatir. Kita membutuhkan khawatir untuk tumbuh menjadi kuat daripada yang kita khawatirkan..
Ketika galau apa yang kita alami? Hati sifat utamanya adalah naik dan turun. Ketika di bawah kita menyebutnya galau, ketika diatas kita menyebutnya super atau well done. Kita akan bekerja pada titik atas atau ketika dititik galau. Dimana kita berada, disitu kita harus tetap bekerja dengan baik karena waktu itu sedang berjalan, baik ketika kita sedang diatas ataupun sedang galau. Lakukanlah apa yang perlu dilakukan dalam perasaan apapun karena ini yang membangun hormatnya orang. Mengeluh, menyalahkan orang, adalah perilaku orang kecil yang pangkatnya tinggi.
Bagaimana caranya kaum muda, yang galau itu bisa bertindak sebijak orang yang sudah mapan dalam keadaan galau yang sama? Wajah dari orang muda itu terbuat dari plasticin (lilin / malam) wajah dari orang tua itu terbuat dari lilin yang sudah mengeras. Itu sebabnya orang yang sudah tua dan matang kegalauannya tidak terlihat. Orang yang sudah dewasa tahu, kegalauan ini tangggung jawab pribadinya dan tidak perlu disampaikannya kepada orang lain untuk menambah masalah mereka. Jadi kalau begitu jadilah pribadi yang wajahnya sudah terbentuk, ambilah wajah orang besar dalam sejarah lalu pelajari bentukan otot dan rahang kita untuk mengambil wajah dari Julius Caesar, gajah Mada Dll. Lalu latihlah untuk bertanggung jawab hanya terhadap kegalauan kita sendiri. Karena wajah yang damai tadi , yang kuat tadi, kalau mendamaikan orang cerminannya mendamaikan kita sendiri. Yang kita lakukan demi kedamaian orang penting bagi kedamaian kita sendiri.
Parameter apa yang kita jadikan acuan bahwa apa yang kita dapatkan sudah merupakan takdir bagi kita? Tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang beragama yang salah mengartikan agamanya. Seperti takdir, suratan, kita harus hati - hati, rejeki sudah ditentukan Tuhan (Betul)Contoh : Kalau saya rajin saya dapat 1 M, Kalau setengah rajin dapat 500 JT, kalau malas dapat 0 (atau bahkan hutang) .Jadi kalau begitu Tuhan sudah menetapkan Rejeki bukan pada jumlahnya tapi lebih kepada caranya. Maka dari itu gunakan cara yang menjadikan kita kaya, cara yang menjadikan kita berwibawa. Cara bukan jumlah.
Katakan bila kita dalam keadaan tersesat, kamu hilang ya? Katakan tidak, saya tidak sedang hilang, saya hanya berada ditempat yang saya belum kenal. Dengan sikap seperti ini kita tidak akan menjadi galau. Saya tidak bingung, saya hanyasedang banyak pertimbangan, orang seperti ini ditambah dengan kekuatan tidak tahu malu, tidak akan galau. Maka dari itu mulai dari sekarang, jangan rendahkan diri kalau kita salah. Jangan anggap diri kita “a failure in life” bila kita gagal atau kita nakal. Katakan seperti ini, kalau akau gagal, salah atau nakal itu buka criminal, tapi lucu. Bagi anak muda. Tapi bagi orang tua salah itu membutuhkan perbaikan. Jadi bukan galaunya yang menjadi focus kita tetapi  membangun pribadi yang santai kalau gagal. Karena kegagalan adalah kewajaran bagi orang yang mengupayakan keberhasilan. Kalau kita tidak ramah terhadap kegagalan, lalau bagaimana mungkin keberhasilan akan terletak dengan indahnya di meja kita. Maka mulai hari ini marilah kita menjadi pribadi yang ramah terhadap semua hal yang dicoba.  Kalau orang lain katakan tidak mungkin, maka kita katakan biar aku yang coba. Kalau ada orang yang mengatakan itu sudah perah di coba dan gagal, maka katakan  ijinkan saya mencoba dengan cara saya. Dan ingat, orang galau adalah orang yang membutuhkan kasih sayang.  Maka bergaulah dengan orang - orang yang penuh kasih, jangan mendekatkan diri kepada orang yang suka menilai kita dari kelemahan, yang mengkritikkan, yang sebagian orang tidak ikhlas melihat temannya berhasil. Dan merayakan kegagalan orang.
“GALAU ITU SEMENTARA TAPI KEBERHASILAN KITA ITU HAK”

Catatan Kecil dari Mario teguh

Sertifikasi dan Peningkatan Kualitas Guru

Salah satu parameter kemajuan suatu negara dapat diukur dengan kualitas pendidikannya. Dan kualitas pendidikan suatu bangsa sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh kualitas guru yang memberikan pelayanan pendidikan pada sebuah satuan pendidikan atau yang lebih populer dengan istilah sekolah. Hal ini sangat beralasan karena guru adalah orang yang paling sering bersentuhan lansung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran. Artinya keberhasilan sebuah proses pembelajaran salah satunya sangat ditentukan oleh kualitas guru dalam mengorkestrasi pembelajaran.
Masalahnya tidak semua guru di Indonesia mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas kepada peserta didiknya.
Atas dasar itu pemerintah berupaya untuk meningkatkan kulitas guru Salah satunya adalah lahirnya Undang-undang Guru dan Dosen pada tahun 2005 yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi
Program ini sebenarnya diawali dari sebuah hipotesis bahwa guru yang profesional dan berkualitas akan terwujud apabila kesejahteraannya mencukupi. Sebaliknya, jangan harap seorang guru akan profesional jika kesejahteraannya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.
Sudah hampir enam tahun program sertifikasi berjalan dan puluhan ribu guru sudah dinyatakan lulus sertifikasi dan otomatis menerima tunjangan profesi yang cukup besar perbulannya. Tapi ternyata program tersebut tidak berkorelasi positif dengan peningkatan kualitas pelayanan pendidikan guru yang sudah tersertifikasi dalam proses pembelajaran. Mereka tidak berubah. Mereka tetap mengajar biasa-biasa saja. Bahkan di beberapa sekolah ada indikasi bahwa progresifitas guru-guru yang sudah mendapat tunjangan profesi cenderung menurun. Artinya hipotesis bahwa guru yang profesional dan berkualitas akan terwujud apabila kesejahteraannya mencukupi perlu dikaji ulang lagi.
Menurut penulis, ada dua hal yang patut diduga menjadi penyebab tidak terciptanya korelasi yang positif antara program sertifikasi yang digulirkan pemerintah dengan peningkatan kualitas guru. Pertama, kekeliruan pembacaan guru terhadap makna profeonalisme. Banyak guru yang mengkalim telah menjadi guru profesional ketika mereka sudah memenuhi persyaratan administratif sertifikasi berupa pembuatan portofolio, dinyatakan lulus, mendapatkan sertifikat, dan tentu saja mendapat tunjangan profesi perbulannya. Artinya guru profesioanl dalam pandangan mereka adalah guru yang sudah sejahtera. Maka ketika kesejahteraan itu sudah diraih, tidak ada lagi kewajiban bagi mereka untuk meningkatkan kemampuan mereka sehingga menjadi pribadi yang lebih baik, khususnya dalam memberikan pelayanan pendidikan terhadap anak didik.
Harus diakui bahwa iming-iming tunjangan profesi yang akan diberikan kepada guru yang dinyatakan lulus sertifikasi mempunyai daya tarik tersendiri bagi para guru. Tidak sedikit guru yang mengikuti sertifikasi bukan untuk meningkatkan kualitas dalam kapasitas mereka sebagai guru, tapi mengejar tunjangan profesi. Maka tidak heran kalau akhirnya sertifikasi hanya melahirkan guru-guru yang bermental pedagang, yaitu guru yang selalu menggunakan prinsip ekonomi dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Parahnya, yang dijadikan patokannya adalah hak yang mereka terima. Setelah hak-nya diperoleh, barulah kewajiban mereka akan dilaksanakan bergantung besarnya hak yang mereka terima. Guru ini pada awalnya merasa profesional, namun akhirnya akan terjebak dalam ”kesombongan” dalam bekerja. Artinya proses pengajaran yang dilakukan oleh guru pada akhirnya akan sangat situasional. Ketika menguntungkan secara finansial, mereka akan bersungguh-sungguh memberikan pengajaran maksimal. Sebaliknya, ketika tidak ada keuntungan finansial, mereka pun akan mengajar biasa-biasa saja dan cenderung asal-asalan.
Kedua, kurangnya pengawasan pemerintah terhadap kinerja guru pascasertifikasi. Banyak guru yang sudah disertifikasi berpikir, untuk apa lagi meningkatkan kompetensi profesi, la wong sertifikat pendidik profesional pun sudah dikantongi. Oleh karena itu, pengawasan dan pembinaan kinerja guru pascasertiifkasi perlu ditingkatkan agar kesejahteraan guru yang meningkat berkorelasi positif dengan peningkatan kompetensi profesinya.
Terlepas dari pro kontra tentang munculnya program sertifikasi untuk meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru, namun usaha itu perlu kita apresiasi dengan berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja sehingga bisa memberikan layanan pendidikan terbaik terhadap anak didik. Usaha pemerintah untuk meningkatkan pemerintah dan kesejahteraan guru akan menjadi absurd seandainya guru, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas tidak melakukan perbaikan dari dalam diri mereka sendiri.
Salah satu cara meningkatkan kompetensi guru keinginan guru untuk terus belajar setiap waktu. Belajar memahami kondisi anak yang beragam untuk kemudian mencari metode pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan kontekstual sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar anak. Sehingga keragaman anak sebagai kodrat bisa terakomodasi dan terfasilitasi. Guru yang mengklaim dirinya profesional karena kesejahteraanya meningkat tapi tidak mau belajar mengikuti perkembangan anak dan metode pemebelajaran kontemporer merupakan lonceng kematian bagi dunia pendidikan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites