This is Me

what you think.

My Tumblr

click this image to visit My Tumblr.

Trauma Counseling

Galery Photo's About This.

So Beautiful

Hmmmm...

Dia Selalu Mebuat Ku Bahagia.

Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psikologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2011

Munculnya Teori Pembelajaran

Apa itu teori? Pertanyaan yang mungkin tidak mudah untuk dijawab, sebagian karena ada berbagai opini yang berbeda mengenai apa yang seharusnya sebuah teori dan fungsi apa yang seharusnya dijalankan oleh sebuah teori. Dalam pengertian luas, teori adalah interpretasi sistematis atas sebuah bidang pengetahuan yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati. Dari semua teori yang ada belum semuanya tersusun secara sempurna, pasti memiliki persoalan dan perbedaan yang membedakannya dengan teori lainnya, dan memiliki perubahan dari masa ke masa. Ada beberapa teori yang muncul untuk mengetahui mengenai pola belajar manusia. Yang pada intinya mereka peduli mengenai pembelajaran sebagai upaya untuk mengoptimalkan kegiatan belajar. Ada beberapa persoalan yang membedakan teori-teori pembelajaran yang dapat dikelompokkan menurut bagaimana teori itu dapat menjawab beberapa persoalan dasar dan pelaksanaannya termasuk pembentukan teori yaitu menggunakan variabel perantara atau tidak dan sifatnya koneksionis atau kognitif, berkaitan dengan penguatan, pembelajaran yang harus dianalisis pada level molar atau level molekuler, teori disajikan secara formal atau informal, luas cakupan teori, sejauh mana penekanan diberikan pada pengaruh aspek bawaan terhadap perilaku dan pada pengaruh batasan-batasan biologi terhadap pembelajaran, dan mengenai kepraktisan.
Seperti apapun nantinya bentuk teori pada masa yang akan datang, sebagian dari kita harus bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya teori-teori yang ada pada saat ini dengan berbagai kekurangannya. Psikologi pembelajaran terapan memiliki arti penting bukan hanya sebagai cara menempatkan teori-teori dalam penggunaannya yang praktis melainkan juga sebagai cara untuk memperbaiki teori-teori tersebut dan studi terapan dapat membantu untuk memastikan kondisi-kondisi batas yang ada pada teori tersebut dan juga dapat digunakan untuk memodifikasi teori lama atau membangun teori baru. Jika sebuah teori yang bertolak dari data laboratorium digunakan untuk memprediksi sebuah situasi terapan, dan prediksi itu tidak terbukti, berarti kejadian ini menunjukkan bahwa teori tidak sesuai dengan kondisi tersebut. Namun teori tersebut mungkin sesuai untuk memprediksi situasi lain. Masing-masing teori pembelajaran menekankan aspek tertentu dalam proses pembelajaran yang perlu kita pertimbangkan. Semuanya berfungsi memperkaya pemahaman kita terhadap situasi-situasi pembelajaran yang kita amati dan membantu kita menemukan solusi atas problema pembelajaran praktis yang kita hadapi.
Ada beberapa teori tentang belajar yaitu: teori behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental (tidak mengakui adanya bakat dan kecerdasan). Teori kognitif membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Manusia belajar dengan menggunakan kemampuan kognisinya, Teori konstrukvisme memahami hakikat belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan cara mencoba memberi makna pada pengetahuan sesuai pengalamannya. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Pengetahuan yang dimiliki tergantung dari usaha manusia itu sendiri. Dalam aliran humanisme memandang bahwa belajar bukan sekadar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi dalam diri individu yang melibatkan afektif, dan psikomotorik.
source: Endro.P

Muda dan Galau

Galau itu merupakan wilayahnya orang muda, sangat heran adalah orang muda yang tidak galau. Yang tidak boleh dalam kegalauan itu adalah kegalauan yang berlanjut, karena itu bukan sifat asli hati , sifat asli hati yaitu : Menyakit, meragu, menjelas dan menghilang dari kejelasan
Maka dari itu kita membicarakan Muda dan galau dan bagaimana kita mengambil kekuatan dan keuntungan dari kegalauan agar kita menjadi pribadi yang berhasil semuda mungkin.
Apakah usia Tua merasakan galau?
Ada, hanya patokannya seperti ini, kegalauan bagi orang tua adalah kemandegan bagi orang tua itu sendiri dan merupakan tanda pertumbuhan bagi orang muda. Jadi kalau orang tua galau artinya kemampuannya tidak sesuai dengan beban hidupnya. Tetapi bagi anak muda adalah sebuah kewajaran karena  anak muda itu problemnya adalah ketidakjelasan, ketidakpastian, belum damainya dengan kesalahan di masa lalu, lalu kebiasaan menggunakan kesalahan di masa lalu sebagai penduga kebaikan masa depan. Kalau kita menggunakan kesalahan masa lalu sebagai penentu kebaikan di masa depan maka orang ini tidak berbahagia karena hidup di masa lalu dengan badan hidup di masa kini. Jadi muda dan galau itu wajar dan  kita tidak pernah kehilangan kualitas itu  sampai kita menjadi orang yang  super, lalu kegalauan digunakan menjadi tanda bahwa kemampuan kita mencapai batasnya. Dan sebenarnya ini merupakan perintah menghadap kepada Tuhan untuk meminta kekuatan lebih. Jadi bagi yang muda Galau itu perintah untuk mendapatkan kejelasan .
Kegalauan mengenai karir, saat ini memiliki pekerjaan yang sudah jelas, tetapi dengan berjalannya waktu kita meningkatkan diri dan kompetensi sehingga muncul kesempatan untuk karir yang baru, pertanyaannya, apakah kita tetap di karir yang lama atau pindah ke karir baru yang belum jelas?
Sebab dari banyak kegalauan yaitu,  salah berharap, tidak berharap kepada Tuhan tetapi berharap kepada pekerjaan. Mengalihkan harapan dari pemberi rejeki kepada organisasi. Mari kita murnikan dahulu bahwa selalu ada rejeki dimanapun kita berada. Kebanyakan rejeki datang pada siang hari, kecuali untuk orang - orang tertentu yang memang diharuskan bekerja di malam hari. Nah, dari sini bisa diketahui banyak orang berharap di satu tempat, walaupun dia disiksa dalam kerendahan, tidak mengeluarkan dirinya ke tempat yang menghormatinya, jadi karir itu bukan pekerjaan, bukan tempat dan bukan organisasi. Carreer is Within you, kalau kita pantas di bayar mahal, maka kita pantas di bayar mahal di manapun. Apabila kita pribadi yang diterima, maka kita akan diterima di manapun. Banyak orang membatasi kehebatan dirinya dengan pendapat kecil mengenai dirinya.  Maka orang yang mau sembuh dari penyakit galau  harus belajar menghormati dirinya. Lihat diri kita sebagai pemimpin masa depan, sebagai orang yang mampu. Sekarang muda dan tidak dihormati itu wajar, karena semua orang menganggap hanya yang tua yang berhasil, hanya yang kaya yang berhasil, tapi muda yang mengubah dunia selalu diberikan waktu itu, katakan lihat saya nanti.
Galau yang tepat itu seperti apa? Lebih baik galau karena bingung memilih daripada damai  karna acuh terhadap pertumbuhan , nasehat enjoy saja bisa sangat berbahaya, mengabaikan keharusan untuk memilih dan menyembunyikannya didalam kesibukan kebisingan yang menutupi kejelasan logika bisa berbahaya dan ini bisa menjelaskan kepada kaum tua kenapa dia masih bingung sementara temannya yang lain sudah damai. Galau itu adalah kesedihan atau belum jelasnya pilihan dalam hidup. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan antara harapan dan kenyataan. Dan orang muda itu pemimpi, dan orang muda yang paling mudah strees. Imajinasi itu membesarkan kesedihan, imajinasi membesarkan kegalauan. Jadi orang yang kreatif adalah orang yang mudah galau. Karena orang kreatif membayangkan sesuatunya meskipun itu belum terjadi. Dan orang yang galau dan semakin galau harus sadar bahwa dia memilliki kemampuan yang dahsyat untuk membayangkan yang hebat sekali. Imajinasi kata albert eisntein “more important than knowledge”. Imajinasi lebih penting dari pengetahuan, karena kita bisa membayangkan proses mencapai keberhasilan. Banyak orang membayangkan    keberhasilan tapi tidak membayangkan  proses berhasil. Banyak orang membayangkan keberhasilan tapi  juga membayangkan penderitaan dari kegagalan, lalu mengapa kita menggunakan rahmat yang namanya imajinasi untuk mengecilkan hati kita sendiri.
Bagaimana menyikapi rasa galau yang berasal dari diri sendiri dan galau karena sebab orang lain? Ada sebagian orang yang mudah galau dan sebagian lagi tidak. Apabial kita galau? Apakah galau kita untuk sesuatu yang penting. Jangan tangani semua kegalauan, sebagian besar  kegalauan lebih baik diabaikan. Mengapa setiap kicauan burung, kicauan orang mengganggu kedamaian kita? Kita harus bisa berkata “this is my life” “I Run it” “the way I want it”. Saya pemimpin bagi kehidupan saya sendiri, kalau saya salah biarkan saya salah karena keputusan saya, kalau saya benar kamu juga untung.
Kata kata apa yang kita gunakan untuk melawan galau? Katakan kepada diri kita ” jangan Galau” . sebagaian besar orang yang galau merasakan kegalauan karena sedang tidak mengetahui. Tidak sedang berhadapan dengan orang, tidak sedang menggembirakan orang, tidak sedang memuliakan ibundanya. Orang yang galau itu sedang gila, melihat ke dinding. Maka dari itu libatkanlah diri kita dalam pergaulan dengan orang - orang yang kekuatan pribadinya, yang ketertaikannya kepada kehidupan menghapus semua ketertarikan kita untuk galau.  Dan kita di nilai dari teman - teman kita.
Saatnya Poling  ”Saat orang orang muda galau dan ingin berbagi  rasa dan penguatan dengan siapa biasanya mereka lebih nyaman ?”
A.      Orang Tua dan Guru (25%)
B.      Teman - teman sebaya (62%)
C.      Penasehat Spiritual dan Psikolog.(13%)
Yang memilih A, alasannya merasa lebih percaya diri dan merasa terbuka ketika mengkosultasikan dengan orang tua dan guru. Intinya kedekatan dengan orang tua.
Yang memilih B, karena teman sepenanggungan , sama yang dirasakan. Dan ini betul juga,  teman sebaya juga sama bingungnya (tapi bisa sharing) memang tepat. Yang terjadi adalah orang bingung sharing dengan orang bingung. Apakah ini akan menyelesaikan masalah? Biasanya malah akan memperburuk keadaan. Jadi diskusi dengan teman sebaya malah akan memperburuk. Tapi apakah cara ini salah, kalau mereka mencari tempat untuk merasa aman dengan teman - temannya (tidak) hal ini dikarenakan teman - temannya lebih bersahabat dibandingkan orangtuanya. Teman-temannya mendengar sementara orang tuanya tidak, melainkan langsung marah.
Yang memilih C, karena penasehat spiritual l itu lebih menjadi penengah dan menasehati kalau kita punya masalah dengan orang tua. Maka akan diarahkan untuk tidak membenci orang tua melainkan lebih sayang terhadap orang tua.
Kegalauan itu adalah masa dimana kita membutuhkan kasih sayang. Orang yang galau sedang tidak mapan karena harus bergerak maju. Dan yang dibutuhkan adalah kasih sayang karena kasih sayang adalah tenaga yang mendorong bagi kebaikan.  Cinta mengharuskan kebaikan, apabila kita mencintai, baik anak, kekasih, orangtua, yang sedang galau bantu dia untuk menemukan kekuatan untuk maju, bukan di kritik. Yang menyelesaikan kegalauan adalah persahabatan. Yang menggalaukan di antara hubungan cinta adalah rendahnya persahabatan , rendahnya persahabatan sama dengan pengabaian dan pengabaian adalah pembunuh cinta terkejam. Kegalauan adalah getaran yang memungkinkan kita didorong bergerak menuju sesuatu yang penting.
Bagaimana memanage galau, agar kita bisa menjadi pribadi yang mapan dan bisa untuk membahagiakan keluarga kita sendiri  ? kalau kita galau tolong diingat bahwa yang kita khawatirkan sekarang akan menjadi kecil sekali nanti. Harus diingat keberhasilan selalu berpihak kepada kita, apabila kita patuh terhadap perilaku yang baik.  Tanpa strategi apapun, kita akan mendewasa menjadi lebih besar dari pada hal - hal yang mengganggu kita. Kalau ada yang mengkhawatirkan bagi kita, kita harus melakukan cek…. Seperti ini, apakah ini baik bagiku? Kalau tidak, Tinggalkan. Apakah ini akan menjadikanku lebih siap? Jika iya  maka tetaplah khawatir. Kita membutuhkan khawatir untuk tumbuh menjadi kuat daripada yang kita khawatirkan..
Ketika galau apa yang kita alami? Hati sifat utamanya adalah naik dan turun. Ketika di bawah kita menyebutnya galau, ketika diatas kita menyebutnya super atau well done. Kita akan bekerja pada titik atas atau ketika dititik galau. Dimana kita berada, disitu kita harus tetap bekerja dengan baik karena waktu itu sedang berjalan, baik ketika kita sedang diatas ataupun sedang galau. Lakukanlah apa yang perlu dilakukan dalam perasaan apapun karena ini yang membangun hormatnya orang. Mengeluh, menyalahkan orang, adalah perilaku orang kecil yang pangkatnya tinggi.
Bagaimana caranya kaum muda, yang galau itu bisa bertindak sebijak orang yang sudah mapan dalam keadaan galau yang sama? Wajah dari orang muda itu terbuat dari plasticin (lilin / malam) wajah dari orang tua itu terbuat dari lilin yang sudah mengeras. Itu sebabnya orang yang sudah tua dan matang kegalauannya tidak terlihat. Orang yang sudah dewasa tahu, kegalauan ini tangggung jawab pribadinya dan tidak perlu disampaikannya kepada orang lain untuk menambah masalah mereka. Jadi kalau begitu jadilah pribadi yang wajahnya sudah terbentuk, ambilah wajah orang besar dalam sejarah lalu pelajari bentukan otot dan rahang kita untuk mengambil wajah dari Julius Caesar, gajah Mada Dll. Lalu latihlah untuk bertanggung jawab hanya terhadap kegalauan kita sendiri. Karena wajah yang damai tadi , yang kuat tadi, kalau mendamaikan orang cerminannya mendamaikan kita sendiri. Yang kita lakukan demi kedamaian orang penting bagi kedamaian kita sendiri.
Parameter apa yang kita jadikan acuan bahwa apa yang kita dapatkan sudah merupakan takdir bagi kita? Tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang beragama yang salah mengartikan agamanya. Seperti takdir, suratan, kita harus hati - hati, rejeki sudah ditentukan Tuhan (Betul)Contoh : Kalau saya rajin saya dapat 1 M, Kalau setengah rajin dapat 500 JT, kalau malas dapat 0 (atau bahkan hutang) .Jadi kalau begitu Tuhan sudah menetapkan Rejeki bukan pada jumlahnya tapi lebih kepada caranya. Maka dari itu gunakan cara yang menjadikan kita kaya, cara yang menjadikan kita berwibawa. Cara bukan jumlah.
Katakan bila kita dalam keadaan tersesat, kamu hilang ya? Katakan tidak, saya tidak sedang hilang, saya hanya berada ditempat yang saya belum kenal. Dengan sikap seperti ini kita tidak akan menjadi galau. Saya tidak bingung, saya hanyasedang banyak pertimbangan, orang seperti ini ditambah dengan kekuatan tidak tahu malu, tidak akan galau. Maka dari itu mulai dari sekarang, jangan rendahkan diri kalau kita salah. Jangan anggap diri kita “a failure in life” bila kita gagal atau kita nakal. Katakan seperti ini, kalau akau gagal, salah atau nakal itu buka criminal, tapi lucu. Bagi anak muda. Tapi bagi orang tua salah itu membutuhkan perbaikan. Jadi bukan galaunya yang menjadi focus kita tetapi  membangun pribadi yang santai kalau gagal. Karena kegagalan adalah kewajaran bagi orang yang mengupayakan keberhasilan. Kalau kita tidak ramah terhadap kegagalan, lalau bagaimana mungkin keberhasilan akan terletak dengan indahnya di meja kita. Maka mulai hari ini marilah kita menjadi pribadi yang ramah terhadap semua hal yang dicoba.  Kalau orang lain katakan tidak mungkin, maka kita katakan biar aku yang coba. Kalau ada orang yang mengatakan itu sudah perah di coba dan gagal, maka katakan  ijinkan saya mencoba dengan cara saya. Dan ingat, orang galau adalah orang yang membutuhkan kasih sayang.  Maka bergaulah dengan orang - orang yang penuh kasih, jangan mendekatkan diri kepada orang yang suka menilai kita dari kelemahan, yang mengkritikkan, yang sebagian orang tidak ikhlas melihat temannya berhasil. Dan merayakan kegagalan orang.
“GALAU ITU SEMENTARA TAPI KEBERHASILAN KITA ITU HAK”

Catatan Kecil dari Mario teguh

Rahasia Otak Bayi dalam Mempelajari Bahasa

Sebagian besar orang susah mempelajari bahasa baru disaat umur mereka masuk kedalam katagori dewasa, kenapa demikian?, apa yang membuat seseorang sulit untuk beradaptasi dengan bahasa yang baru di dengar/dipelajari?. dan bukan sebuah rahasia bahwa anak kecil akan lebih mudah mempelajari bahasa ketimbang orang dewasa. kenapa anak-anak mudah menangkap/memahami bahasa baru?
Sebuah penelitian yang baru-baru ini dilakukan di Amerika menunjukkan fakta yang sangat mengejutkan tentang rahasia otak bayi. banyak orang menganggap remeh kemampuan seorang bayi dalam memahami sesuatu, kalau anda beranggapan demikian maka anda termasuk orang yang salah besar. penelitian yang baru saja dilakukan di Seattle, sebuah negara bagian di Amerika menunjukkan bahwa seorang bayi dapat memahami bahasa apapun di seluruh dunia ketika berumur kurang dari satu tahun, penelitian yang dilakukan melibatkan beberapa bayi yang berumur kurang dari 1 tahun. bayi2 ini sengaja dibiasakan terlibat dengan bahasa baru. bayi dari amerika dibiasakan dengan bunyi kata2 bahasa jepang dan sebaliknya. fakta mengejutkan adalah disaat bayi berumur rata-rata 6-8 bulan mereka memiliki kemampuan yang sama dalam mendeteksi bahasa atau respon terhadap bahasa baru. apa yang mengejutkan adalah ketika seorang bayi berumur 9-10 bulan menunjukkan perkembangan yang signifikan terhadap respon mereka pada bahasa. sehingga pakar dibidang bahasa dalam hal ini menyimpulkan bahwa seorang bayi akan belajar bahasa lebih cepat pada umur 9-10 bulan (batas akhir sebelum menjelang 1 tahun). pada umur inilah seorang ibu disarankan sering mempraktekkan bahasa kepada anaknya sehingga kemampuan bahasa seorang anak akan berkembang seiring bertambahnya umur. membiasakan seorang anak untuk mendengarkan bahasa baru pada 2 bulan ini akan membuat seorang anak belajar bahasa 10 x lipat bahkan lebih dibandingkan dengan seorang anak berusia 8 tahun ke atas. kenapa demikian?, sebuah statistik yang dihasilkan dari penelitian di bidang bahasa menunjukan bahwa. ketika seorang anak berusia 1 tahun maka mereka akan mempelajari bahasa dengan sangat mudah, tidak masalah bahasa apa yang diperdengarkan kepada mereka, karena otak seorang bayi akan secara otomatis menangkap suara dan diproses kedalam otak dengas sistem yang sangat alami dan secara otomatis membuat si bayi merekam kata2 tersebut dan mulai memahami secara perlahan ketika kata-kata yang sama di ulangi secara berangsur2.
Anak-anak yang mulai memasuki tahun kedua sampai ketujuh (2-7 tahun) masih memiliki kemampuan mempelajari bahasa dengan sangat mudah. para pakar bahasa menjelaskan bahwa umur 1-7 tahun adalah masa yang sangat tepat untuk mengajari bahasa baru kepada seorang anak. kenapa dmikian?, hal ini disebakan karena pada saat anak berusia 7 tahun keatas kemampuan memahami bahasa akan semakin menurun, usia 8-10 tahun seorang anak masih dalam katagori mudah memahami bahasa sampai umur mereka berada pada tenggang antara 11-15 tahun. dan fakta dari penelitian menyebutkan bahwa seorang anak ketika berumur 15 tahun ke atas akan sangat sulit memahami bahasa karena kemampuan otak mendeteksi kata-kata baru dalam bahasa baru akan bekerja lebih lambat dibandingkan sistem kerja otak seorang bayi yang berumur 6-12 bulan. bahkan statistik menunjukan pada umur 17-19 tahun (dewasa) seseorang berada pada level terendah untuk mempelajari bahasa baru.
Kita adalah pendengar yang dibatasi budaya (culture-bound listener) .kita hanya dapat membedakan suara dalam bahasa sendiri namun tidak dalam bahasa lain. kapan seseorang tidak hanya menjadi pendengar yang dibatasi budaya atau dengan kata lain memahami suara terbatas pada bahasa sendiri. dalam hal ini para peneliti mengungkapkan bahwa umur 1 tahun adalah batas akhir seseorang mampu membedakan suara dari bahasa manapun dan ini mampu dilakukan oleh seorang bayi tidak perduli darimana asal mereka dan suara bahasa apa yang mereka dengar.
Hal yang sangat bermanfaat bagi seorang ibu adalah membiasakan berbicara pada seorang bayi disaat mereka berusia 8-10 bulan, ini adalah 2 masa penting (critical two-month period), masa perkembangan bunyi (sound development). pada 2 bulan inilah masa-masa seorang bayi sangat mudak mendeteksi bunyi apapun yang mereka dengar dan secara otomatis menyimpan apa yang mereka dengar kedalam otak mereka. membiasakan seorang bayi dengan bunyi bahasa baru dengan mempraktekkan/menggerakkan sebuah benda juga akan membuat bayi mendeteksi makna sebuah kata dengan lebih mudah dan cepat. sehingga kata-kata tersebut akan mudah untuk direspon ketika diulangi dengan gerakan yang sama.
Bayangkan jika pada umur 2 bulan ini anda meluangkan waktu untuk berbicara dengan bayi anda maka dengan mudah mereka akan memahaminya  seiring bertambahnya umur. jadi biasakan bayi anda mendengarkan bunyi-bunyi bacaan alquran disaat umur 8-10 bulan maka insyaallah mereka akan belajar membaca alquran lebih cepat ketika umur mereka menginjak 7 tahun, bunyi yang mereka dengar akan secara otomatis tersimpan di otak mereka dan dengan mudah memanggilnya kembali (recall) disaat mereka mengulangnya. begitu juga dengan bahasa, ajari bayi anda mengenal bunyi-bunyi huruf, kata atau kalimat pada masa kejayaan (8-10 bulan). tidak perduli mereka harus paham dengan bunyi yang anda perdengarkan, tapi cukup biarkan mereka mendengar sesering mungkin maka dengan demikian otak mereka akan bekerja secara otomatis untuk merekamnya tanpa perlu memahami tata bahasa yang rumit.
semoga bermanfaat,

Fenomena Anak Berbakat dan Penanganannya

Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus” (Pasal 5, ayat 4).
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya” (pasal 12, ayat 1b).
(Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional)
Siapapun ingin, memiliki buah hati yang berprestasi. Namun pengertian prestasi yang dipahami oleh orang tua kebanyakan hanyalah  “nilai raport dengan angka yang tinggi”. Semakin tinggi angkanya, semakin senang mereka. Padahal prestasi yang demikian hanyalah prestasi dibidang akedemis. Tak salah memang mengharapkan anak mendapatkan nilai akedemis yang tinggi. Siapa yang tak bangga bila putra / putrinya mendapat angka 9 untuk pelajaran matematika, atau IPA, dua pelajaran yang menjadi momok di sekolah. Namun sebaiknya kita juga harus fair, sistem pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya mengakomodir berbagai kecerdasan yang ada pada setiap siswa, yang ada hanyalah kurikulum yang menguraikan target kompetensi di setiap pelajarannya. Hingga tak heran bila banyak “mutiara-mutiara” berserakan yang luput dari pengamatan. Mereka adalah anak yang memiliki bakat khusus di bidang tertentu, namun tidak terdeteksi di sekolah. Padahal pemerintah telah mengakomodir keistimewaan potensi anak berbakat ini dalam wadah undang-undang. Mengapa keberadaan  anak berbakat terkadang luput dari perhatian pihak sekolah? Setidaknya ada dua alasan untuk bisa menjelaskannya, yaitu :
  1. Generalisir bukan uniquely
Perlakuan guru sebagai personal maupun sekolah sebagai lembaga masih memperlakukan siswa sama halnya seperti tukang sablon kaos. Setiap baju harus disablon dengan warna, gambar dan model yang sama, sehingga terciptalah ribuan baju yang sama dengan proses yang sama pula. Padahal kenyataanya tidak semua baju bisa disablon, sablon hanya cocok dengan baju berbahan kaos, itupun tidak semua kaos cocok untuk disablon. Bagaimana dengan kaos bermotif, kaos rombeng compang camping atau baju safari? Akan jadi apa bila dipaksakan untuk disablon?
Artinya perlakuan yang sama terhadap semua siswa akan memandulkan potensi anak itu sendiri. Seperti anak yang diibaratkan kaos rombeng compang camping, yaitu anak yang  kesehariannya sama sekali tidak ada keistimewaaanya, sering jadi “trouble maker”, selalu mendapat nilai jelek, bila terus dipaksakan disablon seperti kaos yang lainnya, maka hasilnya tak akan bagus, malah sebaliknya. Kaos rombeng compang camping, mengapa tidak dijadikan kostum untuk pementasan drama atau musik? Bukankah akan nyata kebermanfaatannya? Begitu pula dengan anak berbakat yang diibaratkan baju safari, bila diperlakukan sama seperti kaos yang lain dengan disablon  maka akan merusak baju safari tadi. Kesimpulannya setiap siswa adalah unik, jangan digeneralisir. Proseslah mereka sesuai dengan potensi dan bakatnya masing-masing seharusnya : uniquely bukan generalisir !
2. Pemahaman keliru
Banyak orang dewasa menghargai prestasi anak hanya dari tingginya nilai raport, sebaliknya anak akan kurang mendapat apresiasi bila semua nilai di raportnya jeblok, seakan tidak ada kebanggan di sana. Padahal siapa tahu diantara anak yang nilainya jeblok itu terdapat anak yang berbakat. Berapa banyak anak berbakat yang memiliki kecerdasan naturalis dan berpotensi menjadi ahli botani,  animalogi atau peneliti. Namun, karena tak bisa menjawab perhitungan rumit matematika atau tak kuasa menghafal tahun dan  peristiwa bersejarah, maka ia luput dari perhatian orang dewasa di sekitarnya. Atau anak yang dicap pendiam, menarik diri, pemalu dengan prestasi yang biasa-biasa saja, padahal sebenarnya ia adalah anak berbakat yang memiliki  kecerdasan eksistensial, laiknya plato atau Socrates! Jadi tak selamanya anak berbakat hanyalah sekumpulan anak dengan IQ tinggi, bisa menghitung cepat, mampu merecall semua data entry, dsb. Sebagai contoh; Galang Rambu Anarki putra Iwan Fals, sama sekali tidak menonjol di sekolah, semua nilainya hancur, sekolahpun jarang masuk. Namun di usia sangat muda (SD) ia sudah bisa memainkan berbagai alat musik, membuat lagu, mengaransemen, dan tampil di berbagai panggung. Artinya ia adalah anak berbakat di bidangnya yaitu musik. Demikian pula dengan Ali (bukan nama sebenarnya) kapten tim kesebelasan AC Milan Indonesia yang berhasil menjuarai turnamen sepakbola Internasioanal di Italia. Ia adalah anak dari orang tua tidak mampu, dengan prestasi sekolah yang tidak baik pula. Tapi sebenarnya ia adalah anak berbakat di bidangnya, yaitu sepak bola. Jadi, ubahlah paradigma bahwa anak berbakat hanyalah anak yang memiliki prestasi akedemis yang tinggi di sekolah.
Solusi
Anak berbakat akan merasa frustasi bila diperlakukan sama dengan anak lainnya, seperti perumpamaan “sablon kaos” di atas. Robert Boyle, bapak ilmu kimia yang menemukan “Hukum Boyle” saja memutuskan untuk keluar SD, karena merasa bosan dan jenuh di sekolah karena dalam banyak hal pemikiran dan kemampuannya di atas teman-temannya, bahkan  guru-gurunya pun merasa kewalahan dengan sikap kritisnya. Oleh karenanya harus ada penanganan khusus bagi anak anak berbakat, seperti :
1)      Menyiapkan perangkat khusus di sekolah bagi anak berbakat, sehingga tanpa harus dipisahkan dari anak
lainnya,    kemampuan dan bakatnya tetap dapat dimaksimalkan
2)      Program akselerasi khusus untuk anak-anak berbakat
3)      Home-schooling, pendidikan non formal di luar sekolah (Thomas Alva Edison, Hellen Keller, Robert Boyle
adalah  siswa home schooling di masanya)
4)      Menyiapkan guru yang dapat melakukan pendekatan individual, walau harus mengajar di kelas
konvensional, dilengkapi dengan program sekolah yang jelas sofe ware/hard warenya.
5)      Membangun kelas khusus untuk anak berbakat.
Kelimanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, namun setidaknya ada usaha untuk tidakterjadi proses pembiaran terhadap para anak berbakat ini, sehingga bakat dan potensinya tidak hilang percuma.

Doni.S

Adakah Manusia Bodoh..??

“Dasar kamu bodoh”. itulah salah satu contoh umpatan yang dialamatkan kepada manusia yang tidak atau belum mempunyai kemampuan yang diinginkan oleh sang pengumpat. Hal ini diperparah dengan adanya tes IQ yang katanya sebagai alat ukur yang valid untuk mengukur cerdas atau tidaknya manusia. manusia yang mempunyai skor IQ 90 ke bawah dikatakan manusia bodoh sedangkan manusia yang mempunyai IQ diatas 140 dikatakan manusia cerdas. Padahal tes IQ hanya mampu mengukur kecerdasan matematis logis, kecerdasan linguistik, dan kecerdasan spasial. Yang berarti manusia yang tidak menonjol di ketiga kecerdasan di atas dikatakan manusia bodoh?
Untungnya, Howard Gardner seorang ahli psikologi dari Harvard mengemukakan ada 8 kecerdasan, yaitu:
1. Kecerdasan Matematis-logis
adalah kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif (misal: sebagai matematikawan,akuntan pajak, atau statistikawan) dan dapat memikirkannya dengan baik(misal seorang ilmuwan, programer komputer atau logikawan). Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap pola dan hubungan logika, pernyataan dan menarik kesimpulan(jika-maka, sebab akibat), fungsi dan hubungan abstrak lainnya. Proses mental di atas menggunakan kecerdasan matematis-logis meliputi mengkategori, mengklasifikasi, menginterferensi, menggeneralisasi, mengkalkulasi dan pengujian hipotesis.
2. Kecerdasan linguistik
adalah suatu kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan (misal seorang pendongeng, orator, atau politikus) atau tertulis (misal: penulis puisi, pemain sandiwara, editor, atau jurnalis). Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi sintaksis atau struktur bahasa, fonologi atau tata bunyi bahasa, semantik atau maksud dari bahasa, dan kemampuan praktis bahasa. Berbagai macam kemampuan ini digunakan untuk retorika (menggunakan bahasa untuk meyakinkan orang lain untuk melakukan sesuatu), mnemonik (menggunakan bahasa untuk mengingat informasi), eksplanasi(menggunakan bahasa untuk menginformasikan sesuatu) dan metalanguage (menggunakan bahasa untuk berbicara pada diri sendiri)
3. Kecerdasan spasial adalah
Adalah kemampuan untuk memahami dunia visual spasial secara akurat( misal, sebagai pemburu, anggota kepanduan, atau pemandu wisata) dan mengubahnya walaupun kasat mata (misal, sebagai seorang dekorator interior, arsitek, seniman,atau penemu). Kecerdasan ini meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bidang, susunan, ruang dan hubungan diantara elemen-elemen tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk memvisualisasi, mempresentasikan visual grafis dan menempatkannya dengan sepantasnya dalam sebuah matriks spasial.
4. Kecerdasan musikal
adalah suatu kemampuan untuk mengerti (misal sebagai anngota grup musik), mengkritisi (misal: sebagai kritikus musik), mengubah(misal sebagai komposer) dan mengekspresikan (misal sebagai pemain musik) komposisi musik. Kecerdasan ini meliputi kepekaan dalam irama, melodi, dan warna nada atau timbre dalam sebuah potongan musik. Seseorang yang mempunyai kecerdasan ini dapat mengerti musik secara intuitif maupun formal (analisis dan teknis) atau keduanya.
5. Kecerdasan interpersonal
adalah suatu kemampuan untuk mengerti dan membedakan suasana hati, tujuan, motivasi dan perasaan orang lain. Kemampuan ini meliputi kepekaan terhadap ekspresi wajah,suara dan gerak-gerik; kemampuan untuk membedakan berbagai macam isyarat interpersonal; dan kemampuan untuk meresponnya secara efektif isyarat-isyarat ini dalam keseharian(misal mempengaruhi dan memobilisasi sekelompok orang untuk melakukan sesuatu)
6. kecerdasan intrapersonal
adalah suatu kemampuan untuk menginstropeksi diri sendiri dan dapat menggunakan kemampuannya untuk beradaptasi. Kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk menginstrospeksi diri sendiri (mengerti kekuatan dan kekurangannya); mengendalikan suasana hatinya, tujuan, motivasi, temperamen, keinginan; dan mempunyai kemampuan untuk mendiplinkan diri sendiri, mengerti diri sendiri, dan dapat menghargai diri sendiri.
7. Kecerdasan Kinestetik
adalah keahlian dalam menggunakan seluruh badannya untuk mengekspresikan ide dan perasaannya (misal: sebagai aktor, operator stensil, atlet atau penari) dan cakap menggunakan tangannya untuk membuat atau mengubah sesuatu(misal: sebagai tukang, pemahat patung, mekanik, atau dokter bedah). Kecerdasan ini meliputi kemampuan mengolah tubuh seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan dengan taktis.
8. Kecerdasan naturalistik
adalah keahlian untuk menghargai dan mengklasifikasi berbagai macam spesies - tumbuhan dan hewan – di lingkungan alaminya. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap fenomena alam lain (misal: susunan awan, gunung dan lain-lain) dan, dalam kasus pertumbuhan di lingkungan urban, kemampuan untuk memisahkannya dengan benda mati seperti mobil, sepatu karet dan cover CD.
9. Dan beberapa kecerdasan lain yang masih diperdebatkan keberadaannya.
Menurut Howard Gardner semua manusia mempunyai kedelapan kecerdasan diatas (dan semua bisa dikembangkan) tetapi ada satu dua kecerdasan yang menonjol. sehingga tidak ada manusia yang “bodoh”, yang ada hanya manusia yang belum termotivasi, belum sadar kecerdasan mana yang menonjol dan belum mengembangkan kecerdasannya. kalau melihat teori Multiple Intelligence,  tidak ada yang namanya cerdas turunan atau bodoh turunan.
Sehingga tidak adil rasanya, ada stigma manusia bodoh hanya karena ia tidak menguasai kemampuan yang dihargai oleh masyarakat. karena setiap manusia unik dan mempunyai berbagai macam kombinasi dari kecerdasan yang telah dikemukakan oleh Howard Gardner. Tinggal bagaimana manusia menghargai dan mengembangkan kecerdasan yang telah dianugerahkan kepadanya.

Sedikit Tentang Hendoisme

edonisme berasal dari bahasa Yunani (Hedone) yang berarti kesenangan. Anggapan awal paham ini adalah manusia selalu mengejar kesenangan hidupnya, baik jasmani ataupun rohani. Pencetus paham ini adalah Aristipos dan Epikuros. Mereka melihat bahwa manusia melakukan setiap aktivitas -pasti- untuk mencari kesenangan dalam hidupnya. Dua filsuf ini menganut dua aliran yang berbeda. Aristipos lebih menekankan kesenangan badani atau jasad seperti makan, minum, dll. Epikuros lebih menekankan kepada kesenangan rohani seperti bebas dari rasa takut, bahagia, tenang batin, dll. Kedua filsuf ini setuju bahwa harus ada sifat pengendalian diri pada saat melaksanakan ide tersebut.
Apabila dipahami secara mendalam, ada beberapa kelemahan dari Hedonisme ini, pertama anggapan bahwa setiap aktivitas manusia adalah untuk mencari kesenangan pribadinya. Tapi apakah benar hal tersebut adalah tabiat manusia yang memotivasi setiap tingkah laku kita? Jawabannya adalah, tidak! Contohnya orang tua kita, mereka bekerja untuk mencari uang, tetapi setelah mendapat penghasilan uangnya malah diberikan pada kita. Seandainya mereka melakukan hal tersebut untuk kesenangan pribadinya (seperti yang menjadi konsepsi dasar Hedonisme) mereka tidak akan memberikan uang hasil usahanya kepada kita. Malahan mungkin saja akan bersenang-senang untuk mereka sendiri dan tidak ada sepeser pun uang tersebut untuk kesenangan kita. Jadi, motif mereka bukanlah untuk kesenangan pribadi belaka, tetapi merupakan konsekuensi logis kewajiban orang tua kepada keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa konsep Hedonisme (mengenai setiap tingkah laku manusia bertujuan untuk mencari kesenangan pribadinya) adalah keliru, karena banyak manusia yang menunda kesenangan pribadi dan malah berkorban demi orang lain.
Kesalahan kedua dari Hedonisme adalah dalam memandang baik dan buruk. Hedonisme memandang bahwa sesuatu yang baik adalah sesuatu yang kita senangi dan yang buruk adalah sesuatu yang tidak kita senangi. Namun baik-buruk, terpuji-tercela bergantung kepada selera atau perasaan individu. Selera tiap individu pastilah berbeda, hal ini akan menimbulkan pandangan subjektif terhadap baik dan buruk, efek dari perbedaan standar ini adalah benturan keinginan tiap individu yang akan menghasilkan konflik antar individu.
Kerancuan ketiga dari konsep Hedonisme adalah paham ini serba individual dan tidak menyentuh tataran sosial dalam pembahasannya. Hedonisme akan mendorong manusia untuk memenuhi kesenangan yang bersifat individual, dia akan lebih memprioritaskan kesenangan dirinya dibandingkan kesenangan orang lain. Hal ini akan menyebabkan hilangnya rasa persaudaraan, cinta kasih, dan kesetiakawanan sosial. Adapun dengan konsep pengendalian diri yang ditawarkan malah menunjukkan bahwa sang pembuat ide telah melihat kesalahan dari ide yang dibuat, jadi ditambahkanlah konsep pengendalian diri sebagai penawar dari racun yang dia buat sendiri.
Tidak terasa tapi efeknya tak terduga, paham ini terus berlangsung dan merasuk ke dalam benak masyarakat kita tanpa ada tindakan pencegahan. Salah satu contoh kasusnya adalah acara-acara hedonisme yang berkedok mencari bibit-bibit penyanyi berbakat atau sejenisnya. Bila kita lihat secara jeli ternyata acara tersebut menawarkan gaya hidup yang tidak jauh dari konsep Hedonisme. Acara ini tentunya membutuhkan kocek yang tebal untuk memfasilitasi para kontestannya, tapi bila kita lihat keadaan bangsa kita yang sedang krisis ekonomi (hasil survey UNDP 66,1% orang Indonesia ada di bawah garis kemiskinan). Kita bisa menyimpulkan ada dua kondisi yang kontradiksi, di satu sisi keadaan perekonomian bangsa kita sedang krisis tapi di sisi lain acara menghambur-hamburkan uang makin marak.
Aneh memang, banyak warga Indonesia yang miskin, tidak punya rumah, gedung sekolah yang hampir roboh, tunjangan pegawai yang kecil dan jumlah pengangguran yang membludak tapi hal ini tidak membuat para peserta acara tersebut prihatin atau menangis tersedu-sedu, mereka malah sedih dan mengeluarkan air mata bila rekan seperjuangannya tereliminasi, terekstradisi, dijemput, dikartu merah, dll. Nampak jelas sikap egoisme dan sikap mengejar kesenangan pribadi mereka. Ini adalah bukti Hedonisme yang banyak menjadi impian anak-anak muda di negeri ini.
Last but not least, solusi praktis bagi pribadi kita yaitu janganlah sekali-kali mau dibodohi sama para pengusung Hedonisme ini, kesenangan yang mereka tawarkan hanyalah kesenangan semu yang bukannya membahagiakan tapi malah menghancurkan. Terus kalau kita sudah memahami bahayanya, kita jangan mengerti sendirian tapi juga harus mengajak temen-temen supaya jangan terjebak oleh ranjau hedonisme..semoga

Kamis, 13 Oktober 2011

Program Akselerasi

Colangelo (dalam Hawadi, 2004) menyebutkan bahwa istilah akselerasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (service delivery), dan kurikulum yang disampaikan.
Pengertian akselerasi ada dua yaitu pertama sebagai model pelayanan, siswa meloncat kelas dan mengikuti pelajaran tertentu pada kelas di atasnya. Kedua sebagai model kurikulum, akselerasi berarti mempercepat bahan ajar dari yang seharusnya dikuasai oleh siswa saat itu.
Dalam hal ini, akselerasi dapat dilakukan dalam kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk kelas reguler, ruang sumber, ataupun kelas khusus dan bentuk akselerasi yang diambil bisa telescoping dan siswa dapat menyelesaikan dua tahun atau lebih kegiatan belajarnya menjadi satu tahun atau dengan cara self-paced studies, yaitu siswa mengatur kecepatan belajarnya sendiri.
Calanglo (dalam Hawadi, 2004) mengingatkan bahwa akselerasi sebagai model pelayanan, gagal dalam memenuhi kurikulum deferensiasi bagi anak berbakat. Sebagai model kurikulum, akselerasi akan membuat anak berbakat menguasai banyak isi pelajaran dalam waktu yang sedikit. Anak-anak ini dapat menguasai bahan ajar secara cepat dan merasa bahagia atas prestasi yang dicapainya, di samping segi ekonomis. Secara umum, bentuk akselerasi telescoping menimbulkan masalah pada pihak sekolah sebagai penyelenggara dan guru, terutama dari sisi keterampilan dan manajemen waktu.

1.      Manfaat Akselerasi
Southerm dan Jones (1991) keuntungan program akselerasi bagi anak berbakat:
a.       Meningkatkan efesiensi
Siswa yang telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan menguasai kurikulum pada tingkat sebelumnya akan belajar lebih baik dan  efisien.
b.      Meningkatkan efektivitas
Siswa yang terkait belajar pada tingkat kelas yang dipersiapkan dan menguasai keterampilanketerampilan sebelumnya merupakan siswa yang paling efektif.

c.       Penghargaan
Siswa yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya memperoleh penghargaan atas prestasi yang dicapainya.
d.      Meningkatkan waktu untuk karier
Adanya pengurangan waktu belajar akan meningkatkan produktivitas siswa, penghasilan, dan kehidupan pribadinya pada waktu yang lain.
e.       Membuka siswa pada kelompok barunya
Dengan program akselerasi, siswa dimungkinkan untuk bergabung dengan siswa lain yang memiliki kemampuan intelektual dan akademis yang sama.
f.       Ekonomis
Keuntungan bagi sekolah ialah tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk mendidik guru khusus anak berbakat.

2.      Kelemahan Akselerasi
Ada beberapa kelemahan dari program akselerasi yaitu :
a.       Segi akademik
1)            Bahan ajar terlalu tinggi bagi siswa akselerasi.
2)            Kemampuan siswa melebihi teman sebayanya bersifat sementara
3)      Siswa akselerasi kemungkinan imatur secara sosial, fisik dan emosional dalam tingkatan kelas tertentu.
4)      Siswa akselerasi terikat pada keputusan karier lebih dini tidak efisien sehingga mahal.
5)      Siswa akselerasi mengembangkan kedewasaan yang luar biasa tanpa adanya pengalaman yang dimiliki sebelumnya
6)      Pengalaman-pengalaman yang sesuai untuk anak seusianya tidak dialami karena tidak merupakan bagian dari kurikulum
7)      Tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik konvergen sehingga siswa akseleran akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan divergen.
b.      Segi penyesuaian sosial
1)      Kekurangan waktu beraktivitas dengan teman sebayanya.
2)      Siswa akan kehilangan aktivitas sosial yang penting dalam usia sebenarnya dan kehilangan waktu bermain.
c.       Berkurangnya kesempatan kegiatan ekstrakurikuler
d.      Penyesuaian emosional
1)      Siswa akselerasi pada akhirnya akan mengalami burn out di bawah rekanan yang ada dan kemungkinan menjadi underachiever.
2)      Siswa akselerasi akan mudah frsutasi dengan adanya tekanan dan tuntutan berprestasi.
3)      Adanya tekanan untuk berprestasi membuat siswa akseleran kehilangan kesempatan untuk mengembangkan hobi.

Anak Berbakat

1.Perumusan Anak Berbakat
Perumusan dari U.S. Office of Education menyatakan bahwa anak berbakat adalah anak yang diidentifikasikan sebagai seorang yang memiliki kemampuan luar biasa serta mampu mengahasilkan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini juga memerlukan program dan pelayanan pendidikan yang berdiferensiasi di luar yang umunya diberikan dalam program regular, untuk dapat merealisasikan kontribusi mereka kepada diri sendiri dan masyarakat. (Davis & Rimm dalam Singgih, 2006).
Menurut Renzulli (dalam Singgih, 2006) keberbakatan adalah kombinasi tiga karakteristik dasar, yaitu kemampuan umum di atas rata-rata, tingkat keterbakatan terhadap tugas atau motivasi berprestasi yang tinggi dan tingkat kreativitas yang tinggi.
Dalam perkembangan selanjutnya, Gardner (dalam Singgih, 2006) mengemukakan tujuh jenis keberbakatan, yakni : 1) Keberbakatan linguistik, 2) Logika-matematika, 3) Spasial, 4) Musikal, 5) Ketubuhan linguistik, 6) Interpersonal, 7) Intrapersonal. Dapat disimpulkan bahwa anak berbakat adalah anak yang memiliki kemampuan luar biasa, mampu berprestasi tinggi dan oleh karenanya membutuhkan pendidikan khusus. Pemerintah Indonesia dalam Undang-Undang No.2 tahun 1989 secara resmi merumuskan keberbakatan sebagai berkemampuan dan berkecerdasan luar biasa (Mangunsong, 2009).
2.Karakteristik Anak Berbakat
Menurut Singgih (2006) ada beberapa karakteristik anak berbakat, diantaranya:
Karakteristik Fisik
Anak berbakat cenderung lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat, lebih bertenaga, dan lebih sehat daripada anak-anak lain seusianya yang memiliki inteligensi rata-rata. Banyak anak berbakat yang menonjol dalam kemampuan atletik dan beragam cabang olah raga.
3. Karakteristik Sosial dan Emosional
Anak berbakat cenderung gembira, disenangi oleh teman-temannya, dan menjadi pemimpin sosial di sekolahnya. Mayoritas di antara mereka stabil secara emosional dan kurang rentan terhadap gangguan neurotik dan psikotik daripada anak-anak normal. Mereka memiliki minat yang luas dan beragam, serta mempersepsikan diri mereka secara positif (Hallahan & Kauffman, 1994). Namun dipihak lain, menurut Winner (2000) anak berbakat juga cenderung bersifat introvert dan lebih banyak mengahbiskan waktu seorang diri daripada anak lain pada umunya. Anak-anak dengan IQ yang sangat tinggi kemungkinan memiliki masalah sosial dan kesulitan emosional yang lebih banyak dari pada anak berbakat yang memiliki tingkat IQ pada rentang 130-150 (Hallahan & Kauffman, 1994).



3. Karakteristik Pendidikan
Anak berbakat cenderung lebih maju daripada anak normal dalam hal prestasi akademis. Mayoritas di antara mereka dengan cepat belajar membaca dan lebih menonjol membaca daripada dalam bidang-bidang yang memerlukan keterampilan manual, seperti menulis dan seni.
4. Identifikasi Anak Berbakat
Menurut Mangunsong (2009) upaya untuk mengidentifikasi anak berbakat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pada umunya, terdapat dua cara untuk melakukan proses identifikasi anak berbakat, yaitu:
-Pengumpulan data secara objektif, yaitu dengan cara dilakukannya tes psikologi dan bersifat kuantitatif
-Pengumpulan data secara subjektif, yaitu dengan cara menggunakan formulir untuk mencatat perilaku, nominasi oleh guru, orangtua, teman sebaya dan diri sendiri serta rekomendasi lainnya mengenai penampilan individu

Interaksi Sosial

1.      Pengertian Interaksi Sosial
Menurut H. Bonner (dalam Slamet Santoso, 1992:15) “Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana dilakukan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”.
Sedangkan Abdul Syani (1994:154). memberikan pengertian interaksi sosial sebagai berikut: ” Interaksi sosial diartikan sebagai hubungan sosial timbal balik yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang secara perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang dengan kelompok-kelompok manusia.” Didalam interaksi sosial berlangsung hubungan individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang pertama menyesuaikan dirinya dengan individu yang lain, dan yang lain terhadap yang pertama.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu manusia dimana individu yang satu dengan yang lain saling mempengaruhi, mengubah dan memperbaiki tingkah laku individu tersebut yang dapat dilakukan secara individu dengan individu lainnya, dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok yang lain.

2.      Faktor-faktor yang Mendasari Interaksi Sosial
Menurut Soejono Soekanto (2005:69) factor yang mendasarai terjadinya interkasi social yaitu, imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Imitasi berasal dari bahasa latin imitatus yang berarti meniru. Menurut A. Baduran Ross dan Ross “Imitasi adalah penguatan pengalaman orang lain (Vicarious reinforcement)”. (Malcom, 1985:117). Sedangkan menurut Gabriel Tarde (dalam Soelaiman Joseof, 1977:37). manusia pada dasarnya individualis tetapi untunglah ada kesanggupan untuk meniru dan inilah yang memungkinkan terciptanya kehidupan sosial (sosial interaction) itu berkisar pada proses imitasi” Dari kedua pendapat itu dapat dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial dapat terjadi karena proses imitasi yaitu peniruan dan penguatan pengalaman lain.
Sugesti dapat dirumuskan sebagai suatu proses dimana seseorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Menurut W.A. Gerungan (1996:61) terdapat beberapa keadaan tertentu serta syarat-syarat yang  memudahkan sugesti terjadi yaitu, Sugesti karena hambatan berfikir, Sugesti karena pikiran terpecah-pecah (disosiasi), Sugesti karena otoritas, Sugesti karena mayoritas, Sugesti karena “will to believe
Orang yang karena hambatan berfikir akan melaksanakan begitu saja apa yang dianjurkan orang lain tanpa ada pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu. Hal itu mudah terjadi apabila orang tersebut pada waktu dikenai sugesti berada dalam keadaan ketika cara-cara berfikir kritis itu sudah agak terhambat-hambat dan sedang mengalami rangsangan-rangsangan emosional.
Sugesti itu juga terjadi pada diri orang yang mengalami disosiasi dalam pikirannya, yaitu apabila pemikiran orang itu mengalami keadaan terpecah belah. Hal ini dapat terjadi, misalnya apabila orang yang bersangkutan menjadi bingung karena ia dihadapkan pada kesulitan-kesulitan hidup yang terlalu kompleks bagi daya penampungnya.
Orang-orang cenderung menerima pandangan atau sikap-sikap tertentu apabila pandangan atau ucapan itu disokong oleh mayoritas kelompoknya. Orang-orang cenderung menerima suatu pandangan atau ucapan apabila pandangan atau ucapan itu disokong oleh mayoritas kelompoknya. Sugesti ini juga disebut sugesti karena keinginan untuk meyakini dirinya.
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain” (W.A Gerungan, 1996:67). Identifikasi dilakukan orang kepada orang lain yang dianggapnya ideal dalam suatu segi. Pada anak usia 7-12 tahun, karena ia sudah mulai berkembang di sekolah maka tempat identifikasi dapat beralih dari orang tuanya kepada orang lain yang dianggapnya lebih terhormat atau bernilai tinggi misalnya guru.
 Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap yang lain”. (W.A Gerungan, 1996:69). Simpati hanya dapat berkembang dalam suatu kerja sama antar dua atau lebih orang, yang menjamin terdapatnya saling mengerti. Justru karena adanya simpati itu dapat diperoleh saling mengerti yang mendalam. Jadi faktor simpati dan hubungan kerjasama yang erat itu saling melengkapi yang satu dengan yang lainnya.                                                           
3.      Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto (1996:71) suatu interaksi sosial tidak akan terjadi bila tidak memenuhi dua syarat, yaitu:
a.       Adanya kontak sosial
Terjadinya kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut. Seorang siswa yang tidak aktif  bertanya tidak akan terjadi kontak sosial dengan temannya. Demikian juga dengan belajar kelompok tanpa adanya diskusi antar individu tidak akan terjadi kontak sosial.
Dalam pergaulan, kontak sosial ini dapat bersifst positif atau negatif. Kontak sosial dilakukan positif jika mengarah pada kerjasama, dan dikatakan positif jika mengarah pada kerjasama, dan dikatakan negatif jika mengarah pada pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan interaksi sosial.



b.      Komunikasi
Sementara itu, arti terpenting dari komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada prilaku orang (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniyah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
4.      Hambatan dalam interaksi Sosial
Setiap siswa pasti menginginkan hubungan yang baik dengan teman-temannya di lingkungan kelas. Namun melakukan hubungan yang baik terhadap lingkungannya bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa siswa yang kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya, baik secara sosial maupun pribadi.
Penyesuaian diri yang buruk biasanya disebabkan oleh rasa rendah diri pada siswa tersebut. Rasa rendah diri yang berlebihan merupakan perasaan yang dapat menghambat seseorang dalam mengadakan interaksi sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Zakiyah Darajat (dalam Eny Sulistiyorini, 1996:16) berpendapat bahwa:
Rasa rendah diri menyebabkan orang lekas tersinggung karena itu ia akan menjauhi pergaulan dengan orang banyak, tidak berani mengungkapkan pendapatnya (karena takut salah) tidak berani bertindak atau mengambil inisiatif (takut tidak diterima orang).

Rasa rendah diri ini diindikasikan sebagai salah satu penerimaan diri yang buruk pada siswa tersebut. Seorang siswa yang merasa rendah diri dan bergaul dengan teman-temannya dapat menghambat terjalinnya hubungan sosial yang akrab, sehingga proses interaksi sosialnya dengan orang lainpun akan ikut terganggu. Jadi hambatan dalam interaksi sosial dapat timbul karena adanya perasaan rendah diri dan menjauhkan diri dari pergaulan dengan temannya.

Penerimaan Diri

Penerimaan diri dapat diartikan sebagai suatu sikap penerimaan terhadap gambaran mengenai kenyataan diri.  Rubin (dalam Ratnawati, 1990:50) menyatakan bahwa penerimaan diri merupakan suatu sikap yang merefleksikan perasaan senang sehubungan dengan kenyataan diri sendiri.
Penerimaan diri ini mengandaikan adanya kemampuan diri dalam psikologis seseorang, yang menunjukkan kualitas diri.  Hal ini berarti bahwa tinjauan tersebut akan diarahkan pada seluruh kemampuan diri yang mendukung perwujudan diri secara utuh.  Hal ini sesuai dengan pendapat Schultz (Ratnawati, 1990:87) menyatakan bahwa penerimaan diri yang dibentuk merupakan hasil dari tinjauan pada seluruh kemampuan diri.
Suatu tingkat kemampuan individu untuk hidup dengan segala kekhususan diri ini memang diperoleh melalui pengenalan diri secara utuh.  Kesadaran diri akan segala kelebihan dan kekurangan diri haruslah seimbang dan diusahakan untuk saling melengkapi satu sama lain, sehingga dapat menumbuhkan kepribadian yang sehat.  Menurut Hurlock (dalam Izzaty, 1996:212) menambahkan bila individu hanya melihat dari satu sisi saja maka tidak mustahil akan timbul kepribadian yang timpang, semakin individu menyukai dirinya maka ia akan mampu menerima dirinya dan ia akan semakin diterima oleh orang lain.
Hurlock (dalam Izzaty,1996:212) mengatakan bahwa individu yang menerima dirinya memiliki penilaian yang realistik tentang sumber daya yang dimilikinya, yang dikombinasikan dengan apresiasi atas dirinya secara keseluruhan. Individu itu memiliki kepastian akan standar dan teguh pada pendirian, serta mempunyai penilaian yang realistik terhadap keterbatasannya tanpa mencela diri. Jadi, orang yang memiliki penerimaan diri yang baik tahu asset yang dimiliki dirinya dan bisa mengatasi cara mengelolanya.
Chaplin (2004:190) berpendapat bahwa penerimaan diri adalah sikap yang merupakan rasa puas pada kualitas dan bakat, serta pengakuan akan keterbatasan diri.  Pengakuan akan keterbatasan diri ini tidak diikuti dengan perasaan malu ataupun bersalah.  Individu ini akan menerima kodrat mereka apa adanya.
Pada dasarnya penerimaan diri merupakan asset pribadi yang sangat berharga. Menurut Calhoun dan Acocella (dalam Izzaty,1996:143) mengatakan penerimaan diri akan membantu individu dalam menyesuaikan diri sehingga sifat-sifat dalam dirinya seimbang dan terintegrasi.  Pendapat ini senada dengan pernyataan Skinner, (dalam Maramis, 1998:79) yang menyebutkan bahwa salah satu kriteria utama bagi suatu kepribadian yang terintegrasi baik adalah menerima diri sendiri.  Selanjutnya dijelaskan bahwa menerima diri sendiri artinya mempunyai harga diri, percaya pada kemampuan diri sendiri, mengenal dan menerima batas-batas kemampuannya, tidak terlalu kaku, serta mengenal perasaan-perasaan yang ada pada dirinya. Kewajaran dan spontanitas yang dimiliki oleh individu ini membuat langkahnya menjadi enak dan pasti.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penerimaan ini merupakan sikap individu yang mencerminkan perasaan menerima dan senang atas segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirinya serta mampu mengelola segala kekhususan diri dengan baik sehingga dapat menumbuhkan kepribadian yang sehat.
#Dari Beberapa Sumber

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites